Pengertian Aqiqah Lengkap dengan Penjelasan Menurut Islam

Pengertian Aqiqah – Memiliki buah hati memang sangat menyenangkan bagi orang tua. Serta salah satu tujuan dari berkeluarga adalah memiliki keturunan yang menyejukkan hati. Namun, dalam setiap anak yang lahir didalam keluarga memiliki suatu kewajiban yang harus dipenuhi oleh setiap orang tua muslim yang harus dituanaikan.

Setiap orang tua yang memiliki anak didalam keluarga mereka memiliki kewajiban untuk melakukan aqiqah terhadap anak – anak mereka. Didalam islam telah dijelaskan dengan jelas dan lengkap baik dalam Al-qur’an, Hadits, serta penjelasan para ulama.

Bagi anda merupakan keluarga baru yang belum mengetahui terkait aqiqah dan penjelasan didalamnya. Berikut ini adalah penjelasan terkait pengertian aqiqah, aqqiqah menurut islam, pengertian aqiqah menurut bahasa dan istilah. syarat aqiqah, hukum aqiqah, hukum aqiqah dalam islam, dalil aqiqah/akikah.

tujuan aqiqah, doa aqiqah, waktu pelaksanaan aqiqah, aqiqah setelah dewasa. kambing aqiqah, syarat kambing aqiqah, tasyakuran aqiqah, ketentuan hewan aqiqah. aqiqah anak, aqiqah anak laki laki, aqiqah anak perempuan, tata cara aqiqah, dan beda aqiqah dengan qurban.

Pengertian Aqiqah

pengertian aqiqah
sumber: pixabay.com

Pengertian aqiqah merupakan salah satu bentuk ibadah kepada Allah atas lahirnya seorang anak baik itu laki laki maupun perempuan. Dimana, aqiqah atau Al aqiqah sendiri merupakan hewan yang dikurbankan hanya kepada Allah dengan cara menyembelih hewan tersebut. Dengan melakukan aqiqah merupakan salah satu bentuk pendekatan diri dan ucapan rasa syukur kepada kenikmatan Allah.

Aqiqah juga merupakan pengambilan rambut yang tumbuh dikepala bayi yang dimana, hewan sembelihan bertepatan pada hari rambut bayi tersebut dipotong.

Pengertian Aqiqah Menurut Bahasa dan Istilah

kambing aqiqah anak perempuan
Sumber: pixabay.com

Menurut bahasa aqiqah berasal dari kata ’Aqiqah berasal dari kata ’aqqu (عَقُّ) yang mempunyai arti potong. Kata potong disini terdapat dua jenis yaitu memotong dalam artian mencukur rambut bayi  yang akan diaqiqah. Kemudian, makna kata potong yang kedua adalah menyembelih hewan kurban untuk bayi yang diaqiqahkan.

Pengertian Aqiqah Menurut Islam

kambing aqiqah anak laki - laki
Sumber: pixabay.com

Aqiqah menurut islam dan sunnah terdapat beberapa penjelasan dari para sahabat dan ulama ahlusunnah. Dimana, beberapa penjelasan tentang aqiqah menurut islam:

a. Ibnul-Qayyim menukil perkataan Abu ’Ubaid bahwasannya Al-Ashmaa’iy dan lain-lain berkata :”Pada asalnya makna ’aqiqah itu adalah rambut bawaan yang ada di kepala bayi ketika lahir.” Hanya saja, istilah ini disebutkan untuk kambing yang disembelih ketika ’aqiqah karena rambut bayi dicukur ketika kambing tersebut disembelih.

Sumber : Tuhfatul-Maudud bi-Ahkaamil-Maulud oleh Ibnul-Qayyim, hal. 33-34, tahqiq : Abdul-Mun’im Al-‘Aaniy; Daarul-Kutub Al-‘Ilmiyyah; Cet. 1/1403, Beirut.

b. Al-Jauhari mengatakan : ”Aqiqah adalah menyembelih hewan pada hari ketujuhnya, dan mencukur rambutnya”.  Selanjutnya Ibnul-Qayyim berkata : “Dari penjelasan ini jelaslah bahwa aqiqah itu disebutkan demikian karena mengandung dua unsur di atas dan ini lebih utama”.

Sumber : Tuhfatul-Maudud bi-Ahkaamil-Maulud oleh Ibnul-Qayyim, hal. 35-36, tahqiq : Abdul-Mun’im Al-‘Aaniy; Daarul-Kutub Al-‘Ilmiyyah; Cet. 1/1403, Beirut.

c. Oleh karena itu, definisi ’aqiqah secara syar’iy yang paling tepat adalah binatang yang disembelih karena kelahiran seorang bayi sebagai ungkapan rasa syukur kepada Allah ta’ala dengan niat dan syarat-syarat tertentu.

Sumber : Shahih Fiqhis-Sunnah oleh Abu Malik Kamal bin Sayyid Salim, 2/380; Al-Maktabah At-Taufiqiyyah, Cairo.

Hukum Aqiqah

hukum aqiqah
Sumber: pixabay.com

Aqiqah menurut pendapat yang paling kuat, hukumnya dalah sunnah muakkadah, ini adalah pendapat jumhur ulama. Hal ini berdasarkan anjuran dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihin wasallam dan praktek langsung oleh Rasulullah,

Rasulullah bersabda: “Bersama anak laki-laki ada aqiqah, maka tumpahkanlah (penebus) darinya darah (sembelihan) dan bersihkan darinya kotoran (cukur rambutnya)”. (HR. Ahmad, Al-Bukhori dan Ashhabus sunan).

Dalam hadits ini ada perintah dalam perkataan Rasulullah “maka tumpahkan (penebus) darinya darah (sembelihan)”, perintah di sini bukan bersifat wajib, sebab ada sabda Rasulullah yang memalingkan dari kewajiban tersebut.

Rasulullah bersabda: “Barang siapa di antara kalian yang ingin menyembelihkan bagi anaknya, maka silahkan lakukan”. (HR. Ahmad, Abu Dawud dan An-Nasai dengan sanad yang hasan).

Dalam hadits ini rasulullah mengatakan “ingin menyembelihkan”, ini menjadi dalil yang memalingkan perintah yang asalnya wajib menjadi sunnah.

Waktu Pelaksanaan Aqiqah

waktu pelaksanaan aqiqah
Sumber: pixabay.com

Disunnah melakukan aqiqah pada hari ketujuh dari kelahiran, ini berdasarkan hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Rasulullah bersabda: “Setiap anak itu tergadai dengan hewan aqiqahnya, disembelih darinya pada hari ke tujuh, dia dicukur dan diberi nama”. (Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Ashhabus Sunan, dan dinyatakan shohih oleh At-tirmidzi).

Bila aqiqah tidak bisa dilakukan pada hari ke tujuh, disunnah dilakukan pada hari ke empat belas, dan bila tidak bisa, maka lakukan pada hari ke dua puluh satu.

Dari abdullah bin Buraidah dari ayahnya dari Rasulullah shallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “hewan aqiqah itu disembelih pada hari ke tujuh, ke empat belas, dan dua puluh satu”. (hadits hasan riwayat Al-Baihaqi).

Setelah hari ke dua puluh satu masih belum sanggup melakukan aqiqah, maka pelaksanaannya dikala sudah mampu. Pelaksanaan aqiqah pada hari ke tujuh, empat belas, dan dua puluh satu, sifatnya adalah sunnah dan bukan wajib.

Aqiqah Setelah Dewasa

Kewajiban aqiqah merupakan tanggung jawab yang dibebankan kepada orang tua anak, namun bila orang tuanya belum mampu menyembelihkan aqiqah untuknya sampai dia dewasa, dia bisa menyembelih hewan aqiqah untuk dirinya sendirinya,

Syaikh Shalih Al-Fauzan berkata: “Dan ia tidak diaqiqahi oleh ayahnya, lalu kemudia dia mengaqiqahi dirinya sendiri, maka hal tidak masalah menurut saya, wallahu a’lam”.

Kambing Aqiqah

syarat kambing aqiqah
Sumber: pixabay.com

Syarat Kambing Aqiqah

Hewan yang boleh disembelih untuk aqiqah jakarta, syaratnya sama dengan hewan yang disembelih untuk qurban, dari segi usia dan kriterianya.

Imam Malik berkata: “Aqiqah itu seperti layaknya nusuk (sembelihan denda larangan haji) dan udhhiyah (qurban), tidak diperbolehkan dalam hal ini hewan yang sakit, kurus, picak, dan patah tulang”.

Imam Asy-Syafi’i berkata: “Dan cacat pada hewan untuk aqiqah harus dihindari sebagaimana yang tidak diperbolehkan dalam halam hewan qurban”.

Ibnu Abdul Barr berkata: “Para ulama telah ijma’ bahwa pada hewan aqiqah ini tidak diperbolehkan hal-hal atau apa-apa yang tidak diperbolehkan dalam udhhiyah, harus dari Al-Azwaj Ats-Tsamaniyyah, yaitu domba, kambing, sapi, dan onta, kecuali pendapat yang ganjil yang tidak dianggap”.

Namun tidak diperbolehkan dalam aqiqah berserikat sebagaimana dibolehkannya berserikat dalam udhhiyah, baik domba/kambing, atau sapi atau unta. Sehingga apa ada yang aqiqah dengan sapi ataupun unta, tidak boleh untuk untuk tujuh orang sebagaimana pada qurban, hanya boleh untuk satu orang

Ketentuan Hewan Aqiqah

syarat kambing aqiqah
sumber: pixabay.com

Bagi orang tua yang ingin mengakikah anaknya membutuhkan hewan aqiqah yang penting sebagai syarat dalam melakukan aqiqah. Hewan aqiqah yang diperlukan untuk bayi laki-laki berbeda dengan hean aqiqah untuk anak perempuan.

Aqiqah Anak Laki laki

Pada Aqiqah anak laki-laki dianjurka atau disunnah dengan dua ekor kambing, kalau tidak sanggup, maka boleh cukup dengan satu ekor saja dan itu sudah dianggap sah

Aqiqah Anak Perempuan

Adapun anak perempuan, maka aqiqahnya hanya dengan satu ekor kambing atau domba yang telah memenuhi syarat sebagai hewan aqiqah

Doa Aqiqah

cara menghafal cepat al quran
Sumber: ummi-online.com

Saat menyembelih hewan aqiqah, disyari’atkan membaca sebagaimana yang disyari’atkan pada qurban. Ada tuntunan membaca, Bismillah, Takbir “Allahu akbar”, dan Aqiqah min (menyebutkan nama anak yang diaqiqah).

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan dari Al-Baihaqi, disebutkan:

أن رسول الله صلى الله عليه وسلم عق الحسن و الحسين شاتين يوم السابع و أمر أن يماط عن  رأسه الأذى و قال اذبحوا على اسمه وقولوا بسم الله و الله أكبر اللهم لك وإليك هذه عقيقة فلان

“Bahwa sanya Rasulullah Shallallahu ‘alihi wasallam mengaqiqah Al-Hasan dan Al-Husain dengan dua ekor kambing pada hari ke tujuh, dan diperintahkan agar rambut kepalanya dicukur. Lalu beliau berkata sembelihlah atas namanya, ucapkan ‘Bismillah wallahu akbar. Allahumma laka wa ilaik. Hadzihi aqiqatu fulan’. (Dengan nama Allah, Allah yang maha besar. Ya Allah, ini milikMu dan untukMu. Ini adalah aqiqah untuk si fulan”.

Pembagian Daging Aqiqah

menghilangkan bau alot daging kambig
pertanianku.com

Mengenai daging hewan aqiqah, sebagian ulama mengatakan bahwa pembagiannya hampir sama dengan pembagian daging qurban, sebagiannya boleh dimakan oleh keluarga yang diaqiqahkan dan sebagiannya lagi dibagikan kepada fakir miskin dan tetangga.

Apabila keluarga dari yang diaqiqahkan tidak memakan dan memberikan seluruhnya kepada fakir miskin, itu tetap dibolehkan dan tidak halangan untuk itu.

Syaikh Utsaimin berkata: “Dan tidak apa-apa dia mensedeqahkan darinya dan mengumpulkan kerabat dan tetanggannya untuk menyantap makanan daging aqiqah yang sudah matang”.

Menurut Syaikh Jibrin, sunnahnya dia memakan sepertiga darinya, mengahdiahkan seoertiganya, dan mensedeqahkan sepertiganya untuk kaum muslimin.

Adapun Syaikh bin Baz, beliau memberikan kebebasan antara mensedeqahkan seluruhnya atau mensedqahkan sebagiannya dan memasaknya, lalu mengundang kerabat, teman-teman, para tetangga, dan kaum muslimin yang lain untuk menyantapnya.

Daging aqiqah disunnah dibagikan dalam keadaan sudah matang atau sudah dimasak, ini yang membedakan dengan pembagian daging qurban yang lebih dianjurkan dalam keadaan mentah.

12 thoughts on “Pengertian Aqiqah Lengkap dengan Penjelasan Menurut Islam

  1. Artikelnya sangat bermanfaat Terimakasih banyak atas pencerahaannya, jika para pembaca ingin menunaikan ibadah aqiqah dengan mudah dan sesuai syariah silahkan kunjungi website resmi kami

  2. Hadits tentang Sejarah Aqiqah
    كُنَّا فِى اْلجَاهِلِيَّةِ اِذَا وُلِدَ ِلاَحَدِنَا غُلاَمٌ ذَبَحَ شَاةً وَ لَطَخَ رَأْسَهُ بِدَمِهَا، فَلَمَّا جَاءَ اللهُ بِاْلاِسْلاَمِ كُنَّا نَذْبَحُ شَاةً وَ نَحْلِقُ رَأْسَهُ وَ نَلْطَخُهُ بزَعْفَرَانٍ. ابو داود

    Buraidah berkata : Dahulu kami di masa jahiliyah apabila salah seorang diantara kami mempunyai anak, ia menyembelih kambing dan melumuri kepalanya dengan darah kambing itu. Maka setelah Allah mendatangkan Islam, kami menyembelih kambing, mencukur (menggundul) kepala si bayi dan melumurinya dengan minyak wangi. [HR. Abu Dawud juz 3, hal. 107, no. 2843]

    عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ: كَانُوْا فِى اْلجَاهِلِيَّةِ اِذَا عَقُّوْا عَنِ الصَّبِيّ خَضَبُوْا قُطْنَةً بِدَمِ اْلعَقِيْقَةِ. فَاِذَا حَلَقُوْا رَأْسَ الصَّبِيّ وَضَعُوْهَا عَلَى رَأْسِهِ، فَقَالَ النَّبِيُّ ص: اِجْعَلُوْا مَكَانَ الدَّمِ خَلُوْقًا. ابن حبان

    Dari ‘Aisyah, ia berkata, “Dahulu orang-orang pada masa jahiliyah apabila mereka ber’aqiqah untuk seorang bayi, mereka melumuri kapas dengan darah ‘aqiqah, lalu ketika mencukur rambut si bayi mereka melumurkan pada kepalanya”. Maka Nabi SAW bersabda, “Gantilah darah itu dengan minyak wangi“. [HR. Ibnu Hibban juz 12, hal. 124, no. 5308]

    Anda dapat membaca sejarah aqiqah lebih lengkap pada artikel yang telah kami tulis sebelumnya. Kami telah jelaskan sejarah awal mula aqiqah sejak zaman jahiliyah (pra Islam) dan ketika pada zaman Nabi Muhammad.

    Hadits Shahih tentang Aqiqah yang Menjadi Dalil Pelaksanaan Aqiqah
    Aqiqah dianjurkan untuk dilaksanakan pada hari ke-7 (tujuh) dengan ketentuan jumlah kambing untuk bayi laki-laki adalah 2 ekor dan untuk bayi perempuan 1 ekor. Selain itu si bayi juga perlu diberi nama dan dicukur rambutnya pada saat aqiqah dilaksanakan. Berikut adalah beberapa hadits yang menjadi dasar pelaksanaan aqiqah:

    عَنْ يُوْسُفَ بْنِ مَاهَكٍ اَنَّهُمْ دَخَلُوْا عَلَى حَفْصَةَ بِنْتِ عَبْدِ الرَّحْمنِ فَسَأَلُوْهَا عَنِ اْلعَقِيْقَةِ، فَاَخْبَرَتْهُمْ اَنَّ عَائِشَةَ اَخْبَرَتْهَا اَنَّ رَسُوْلَ اللهِ ص اَمَرَهُمْ عَنِ اْلغُلاَمِ شَاتَانِ مُكَافِئَتَانِ وَ عَنِ اْلجَارِيَةِ شَاةٌ. الترمذي

    Dari Yusuf bin Mahak bahwasanya orang-orang datang kepada Hafshah binti ‘Abdur Rahman, mereka menanyakan kepadanya tentang ‘aqiqah. Maka Hafshah memberitahukan kepada mereka bahwasanya ‘Aisyah memberitahu kepadanya bahwa Rasulullah SAW telah memerintahkan para shahabat (agar menyembelih ‘aqiqah) bagi anak laki-laki 2 ekor kambing yang sebanding dan untuk anak perempuan 1 ekor kambing. [HR. Tirmidzi juz 3, hal. 35, no. 1549].

    عَنْ سَلْمَانَ بْنِ عَامِرٍ الضَّبِيّ قَالَ: سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ ص يَقُوْلُ: مَعَ اْلغُلاَمِ عَقِيْقَةٌ فَاَهْرِيْقُوْا عَنْهُ دَمًا وَ اَمِيْطُوْا عَنْهُ اْلاَذَى. البخارى 6: 217

    Dari Salman bin ‘Amir Adl-Dlabiy, ia berkata : Saya mendengar Rasulullah SAW bersabda, “Tiap-tiap anak itu ada ‘aqiqahnya. Maka sembelihlah binatang ‘aqiqah untuknya dan buanglah kotoran darinya (cukurlah rambutnya)“. [HR. Bukhari juz 6, hal. 217]

    عَنْ عَمْرِو بْنِ شُعَيْبٍ عَنْ اَبِيْهِ عَنْ جَدّهِ قَالَ، قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص مَنْ اَحَبَّ مِنْكُمْ اَنْ يَنْسُكَ عَنْ وَلَدِهِ فَلْيَفْعَلْ عَنِ اْلغُلاَمِ شَاتَانِ مُكَافِئَتَانِ وَ عَنِ اْلجَارِيَةِ شَاةٌ. احمد 2: 604، رقم: 2725

    Dari ‘Amr bin Syu’aib dari ayahnya, dari kakeknya, ia berkata, Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa berkehendak untuk meng’aqiqahkan anaknya maka kerjakanlah. Untuk anak laki-laki dua ekor kambing yang sebanding dan untuk anak perempuan satu ekor kambing“. [HR. Ahmad juz 2, hal. 604, no. 2725]

    عَنْ عَائِشَةَ رض قَالَتْ: عَقَّ رَسُوْلُ اللهِ ص عَنِ اْلحَسَنِ وَ اْلحُسَيْنِ يَوْمَ السَّابِعِ وَ سَمَّاهُمَا وَ اَمَرَ اَنْ يُمَاطَ عَنْ رُؤُوْسِهِمَا اْلاَذَى. الحاكم فى المستدرك 4: 264، رقم: 7588
    Dari ‘Aisyah RA, ia berkata, “Rasulullah SAW pernah ber’aqiqah untuk Hasan dan Husain pada hari ke-7 dari kelahirannya, beliau memberi nama dan memerintahkan supaya dihilangkan kotoran dari kepalanya (dicukur)“. [HR. Hakim, dalam Al-Mustadrak juz 4, hal. 264, no. 7588]

    Keterangan : Hasan dan Husain adalah cucu Rasulullah SAW.

    عَنْ سَمُرَةَ بْنِ جُنْدَبٍ اَنَّ رَسُوْلَ اللهِ ص قَالَ: كُلُّ غُلاَمٍ رَهِيْنَةٌ بِعَقِيْقَتِهِ تُذْبَحُ عَنْهُ يَوْمَ سَابِعِهِ وَ يُحْلَقُ وَ يُسَمَّى. ابو داود 3: 106، رقم: 2838

    Dari Samurah bin Jundab, bahwasanya Rasulullah SAW bersabda, “Tiap-tiap anak tergadai (tergantung) dengan ‘aqiqahnya yang disembelih untuknya pada hari ke-7, di hari itu ia dicukur rambutnya dan diberi nama“. [HR. Abu Dawud juz 3, hal. 106, no. 2838]

    عَنْ سَمُرَةَ عَنِ النَّبِيّ ص قَالَ: كُلُّ غُلاَمٍ مُرْتَهَنٌ بِعَقِيْقَتِهِ. تُذْبَحُ عَنْهُ يَوْمَ السَّابِعِ وَ يُحْلَقُ رَأْسُهُ وَ يُسَمَّى. ابن ماجه 2: 1056، رقم: 3165

    Dari Samurah, dari Nabi SAW, beliau bersabda, “Setiap anak tergadai dengan ‘aqiqahnya, yang disembelih untuknya pada hari ke-7, dicukur rambutnya, dan diberi nama”. [HR. Ibnu Majah juz 2, hal. 1056, no. 3165]

    كُلُّ غُلاَمٍ رَهِينَةٌ بِعَقِيقَتِهِ تُذْبَحُ عَنْهُ يَوْمَ سَابِعِهِ وَيُحْلَقُ وَيُسَمَّيكُلُّ غُلاَمٍ رَهِينَةٌ بِعَقِيقَتِهِ تَذْ بَحُ عَنْهُ يَوْمَ سَابِعِهِ وَيُحْلَقُ وَيُسَمَّى

    “Setiap bayi tergadai dengan aqiqahnya, disembelihkan (kambing) untuknya pada hari ke tujuh, dicukur dan diberi nama” [HR Abu awud, no. 2838, at-Tirmidzi no. 1522, Ibnu Majah no. 3165 dll dari sahabat Samurah bin Jundub Radhiyallahu anhu. Hadits ini dishahihkan oleh al-Hakim dan disetujui oleh adz-Dzahabi, Syaikh al-Albani dan Syaikh Abu Ishaq al-Huwaini dalam kitab al-Insyirah Fi Adabin Nikah hlm. 97]

    Itulah beberapa Hadits Shahih tentang Aqiqah yang menjadi dasar pelaksanaan aqiqah. Kemudian kami menemukan artikel menarik tentang penjelasan makna kata tergadai dalam hadits. Berikut adalah penjelasannya.

    Penjelasan mengenai kata tergadai dalam Hadits
    Apakah makna kata tergadai tersebut adalah sang anak tidak dapat memberikan syafaat untuk kedua orang tuanya? Berikut adalah penjelasannya seperti dikutip dari almanhaj.or.id:

    Al-Khaththabi rahimahullah berkata : “(Imam) Ahmad berkata, Ini mengenai syafaat. Beliau menghendaki bahwa jika si anak tidak diaqiqahi, lalu anak itu meninggal waktu kecil, dia tidak bisa memberikan syafa’at bagi kedua orang tuanya” [Ma’alimus Sunan 4/264-265, Syarhus Sunnah 11/268]
    Sepengetahuan almanhaj.or.id tidak ada hadits yang menafsirkannya dengan ‘tidak mendapatkan syafa’at’, oleh karena itu para ulama berbeda pendapat tentang maknanya.
    Tampaknya, itu bukan ijtihad Imam Ahmad rahimahullah, akan tetapi beliau mengambil dari penjelasan Ulama sebelumnya. Karena makna ini juga merupakan penjelasan Imam Atha al-Khurasani, seorang Ulama besar dari generasi Tabi’in. Imam al-Baihaqi rahimahullah meriwayatkan dari Yahya bin Hamzah yang mengatakan, “Aku bertanya kepada Atha al-Khurasani, apakah makna ‘tergadai dengan aqiqahnya“, beliau menjawab, “Terhalangi syafa’at anaknya”. [Sunan al-Kubro 9/299]
    Imam Ibnul Qayyim menjelaskan bahwa makna tersebut tidak tepat. Beliau berkata, “Makna tertahan/tergadai (dalam hadits aqiqah) ini masih diperselisihkan. Sejumlah orang mengatakan, maknanya tertahan/tergadai dari syafa’at untuk kedua orag tuanya. Hal itu dikatakan oleh Atha dan diikuti oleh Imam Ahmad. Pendapat tersebut perlu dikoreksi, karena syafa’at anak untuk bapak tidak lebih utama dari sebaliknya. Sedangkan keadaannya sebagai bapak tidaklah berhak memberikan syafa’at untuk anak, demikian juga semua kerabat.
    Berdasarkan beberapa riwayat hadits shahih di atas, maka menjadi jelas bahwa aqiqah itu hukumnya Sunnah. Sunnah memiliki makna kalau dilaksanakan mendapatkan pahala dan bila ditinggalkan tidak berdosa. Mengenai hadits yang menyebutkan bahwa pelaksanaan aqiqah itu pada hari ke-14 (empat belas) atau hari ke-21 (duapuluh satu), haditsnya sebagai berikut :

    قَالَ أَبُوْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : اَلْـعَـقِـيْقَتةُ تُـذْبَحُ لِسَـبْعٍ وَلِأَرْبَعَ عَشَرَةَ وَلِإِحْدَى وَعِشْرِيْنَ

    Kata Abu Hurairah r.a., Nabi saw. bersabda, “Aqiqah itu disembelih pada hari ketujuh, atau keempat belas , atau keduapuluh satunya. (HR. Baihaqi dan Thabrani)

    Menurut para ahli peneliti hadits, dalam riwayat Baihaqi dan Thabrani ini ada seorang perawi bernama Ismail bin Muslim yang dinilai lemah oleh imam Ahmad, Abu Zar’ah, dan Nasa’i. Sehingga hadits ini termasuk Dha’if dan tidak dapat menjadi hujjah yang kuat. Kami juga telah menyebutkan hal ini dalam tulisan kami tentang pengertian aqiqah.

    Semoga penjelasan ringkas mengenai Hadits Shahih tentang Aqiqah dapat bermanfaat buat anda.

    Terakhir diperbarui pada [last-modified]

Leave a Comment